August 20, 2021 By sky-inflight.com 0

Syarat Kambing untuk Aqiqah Menurut Islam

Syarat Kambing untuk Aqiqah Menurut Islam

Hadirnya seorang buah hati pasti jadi hadiah terindah bagi tiap-tiap orang tua. Biasanya umat islam menyelenggarakan aqiqah sebagai sinyal syukur atas kelahiran bayi mereka. Aqiqah dikerjakan bersama dengan cara menyembelih binatang ternak selanjutnya dibagikan kepada kerabat dan tetangga. Nah, satu hal yang sering jadi pertanyaan, sesungguhnya bagaimana sih aqiqah menurut islam? Apakah umat muslim wajib melaksanakan aqiqah atau tidak? Lalu bagaimana kalau seorang anak udah baligh tapi belum dulu di-aqiqah, apakah ia berdosa? Berikut ini ulasan lengkap berkenaan seluk-beluk aqiqah menurut islam.

Definisi Aqiqah

Secara bahasa, aqiqah bermakna memotong (bahasa arab: al qat’u). Namun ada termasuk mendeskripsikan sebagai “nama rambut bayi yang baru dilahirkan”. Sedangkan menurut istilah, aqiqah merupakan proses pemotongan hewan sembelihan pada hari ke tujuh sehabis bayi dilahirkan sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT tips memilih kambing untuk aqiqah .

Ulama lain berpendapat bahwa aqiqah adalah tidak benar satu wujud penebus pada bayi yang dilahirkan, sehingga si bayi bisa lepas berasal dari kekangan jin. Hewan yang digunakan untuk aqiqah kebanyakan hewan ternak layaknya kambing. Aqiqah bisa dikerjakan di hari ke-7, ke-14, atau ke-21 sehabis kelahiran si bayi. Untuk anak laki-laki diharuskan memotong dua ekor kambing, tetapi anak perempuan satu ekor kambing.

Hukum Aqiqah Menurut Pandangan Islam

Aqiqah merupakan ajaran nabi rasulullah SAW. Dalam islam, hukum aqiqah dibedakan jadi 2 macam yakni sunnah dan wajib. Hal selanjutnya didasarkan atas dalil-dalil serta tafsir berasal dari para ulama.

Sunnah

Pendapat pertama berasal dari mayoritas ulama (seperti imam Malik, imam Syafii, imam Ahmad) berkenaan hukum aqiqah adalah sunnah (mustahab). Pendapat ini sifatnya paling kuat dibandingkan pendapat-pendapat lain. Jadi, ulama mengatakan bahwa aqiqah itu hukumnya sunnah muakkad, yakni sunnah yang wajib diutamakan. Dalam artian, jikalau seseorang bisa (mempunyai harta yang cukup) maka direkomendasi mengaqiqah anaknya sementara masih bayi. Sedangkan untuk orang yang tidak bisa maka aqiqah boleh ditinggalkan.

Informasi tentang sunnah rasulullah saw: Aqiqah murah Jakarta

Keutamaan solat sunnah rawatib

Amalan sunnah di malam jumat

Fungsi As-sunnah pada alquran

Hikmah puasa sunnah

Sunnah sebelum akan tidur

Wajib

“Anak-anak itu tergadai (tertahan) bersama dengan aqiqahnya, disembelih hewan untuknya pada hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama.” (HR Ahmad)

Dengan berpatokan pada hadist diatas, beberapa ulama (seperti Imam Laits dan Hasan Al-Bashri) berpendapat bahwa hukum aqiqah adalah wajib untuk dilakukan. Mereka menafsirkan dalil diatas bahwa seorang anak tidak bisa menambahkan syafaat kepada orang tuanya sebelum akan mereka diaqiqah, maka itu hukumnya jadi wajib. Namun demikian pendapat ini dianggap terlampau lemah dan ditolak oleh beberapa besar ulama.

Dalil-Dalil Dasar Aqiqah

Terdapat beberapa dalil yang mengatakan berkenaan sunnahnya melaksanakan aqiqah bagi seorang bayi yang baru dilahirkan. Diantaranya yaitu:

Dari Samurah bin Jundab dia bicara , Rasulullah bersabda. : “Semua anak bayi tergadaikan bersama dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya.” (Hadits shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad , Ad Darimi)

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, Rasulullah bersabda : “Aqiqah dikerjakan gara-gara kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah seluruh gangguan darinya.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Dari Fatimah binti Muhammad kala melahirkan Hasan, dia bicara : Rasulullah bersabda : “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah bersama dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya.” (Hadist Riwayat Ahmad , Thabrani dan al-Baihaqi)

Dari Aisyah dia berkata, Rasulullah bersabda : “Bayi laki-laki diaqiqahi bersama dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing.” (Hadits Riwayat Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

 

Dari ‘Amr bin Syu’aib, Rasulullah bersabda. : “Barangsiapa diantara kalian yang inginkan menyembelih (kambing) gara-gara kelahiran bayi maka hendaklah ia melaksanakan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” (Hadits Riwayat Abu Dawud, Nasa’I, Ahmad)

 

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda : “Menaqiqahi Hasan dan Husein bersama dengan satu kambing dan satu kambing kibas.” (HR Abu Dawud)

 

Tata Cara Pelaksanan Aqiqah

 

Pelaksaan aqiqah tidak hanya hanyalah memotong hewan sembelihan. Namun terkandung syarat dan ketentuan khusus yang wajib diikuti berdasarkan dalil-dalil agama. Nah, selanjutnya ini tata cara pelaksaan aqiqah cocok syariat yang wajib diperhatikan!

 

A. Waktu pelaksanaan

 

Di hari ke-7 sehabis kelahiran

 

Waktu aqiqah yang paling diutamakan adalah pada hari ke-7 sehabis kelahiran si bayi. Acara aqiqah termasuk dibarengi bersama dengan pertolongan nama bayi dan pencukuran rambut. Pendapat ini didasari oleh hadist:

 

“Setiap anak tergadai bersama dengan aqiqahnya, maka pada hari ketujuh disembelih hewan, dicukur habis1 rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Ahmad)

 

Menurut ulama golongan Malikiyah, jikalau orang tua tidak mengaqiqah anaknya sampai melebihi hari ke-7, maka tanggung jawabnya untuk mengaqiqah jadi gugur. Singkat kata, aqiqah hanya boleh dikerjakan di hari ke-7.

 

Hari ke-7, ke-14 dan ke-21 sehabis kelahiran

 

Golongan ulama Hambali memiliki pendapat tidak serupa berasal dari Malikiyah. Mereka berpendapat bahwa aqiqah tidak wajib dikerjakan di hari ke-7. Apabila orang tua belum bisa melaksanakan aqiqah di hari-7, maka boleh mengundurnya sampai hari ke-14 atau ke-21. Pendapat ini didasari oleh dalil:

 

“Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, atau ke-2 puluh satunya.” (HR Baihaqi dan Thabrani).

 

Sebelum anak baligh

 

Menurut ulama Syafi’iyah, aqiqah boleh dikerjakan kapan saja. Baik di hari ke-7, ke-14, ke-21 ataupun hari-hari sesudahnya. Asalkan anak selanjutnya belum baligh. Apabila usia anak udah mencapai baligh, maka tanggung jawab aqiqah oleh orang tua jadi gugur.

 

B. Jenis dan Syarat Hewan yang disembelih

 

Untuk jenis hewan yang dapat digunakan untuk aqiqah ialah hewan ternak, yakni domba atau kambing. Tidak ada tuntunan yang mengatakan jenis kelaminnya. Sedangkan kriteria pemilihan hewannya, tidak cukup lebih sama bersama dengan pemilihan hewan untuk kurban. Yakni:

 

Hewan wajib sehat jasmaninya, tidak boleh cacat

Boleh betina ataupun jantan

Bukan hewan curian

Apabila Kambing, usianya wajib sekurang-kurangnya 1 th. (memasuki th. ke-2)

Apabila Domba, usianya wajib sekurang-kurangnya 6 bulan (memasuki th. ke-7)

 

C. Jumlah hewan yang disembelih

 

“Barangsiapa diantara kalian yang inginkan menyembelih (kambing) gara-gara kelahiran bayi maka hendaklah ia melaksanakan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” (Hadits Riwayat Abu Dawud, Nasa’I, Ahmad)

 

Dari hadist diatas udah menyadari disebutkan bahwa aqiqah untuk anak laki-laki diharuskan 2 ekor kambing. Sedangkan anak perempuan lumayan 1 ekor kambing.

 

D. Sunnah lain sementara Aqiqah

 

Dalam kitab Fathul Qarib, Al-Ghazi mengatakan bahwa terkandung sunnah-sunnah yang sebaiknya dikerjakan sementara aqiqah, yaitu:

 

Memberikan nama pada anak di hari ke-7, tepatnya sementara aqiqah. Alangkah indahnya kalau kita berikan nama untuk buah hati kita bersama dengan nama-nama yang islami

Mencukur rambut si bayi

Bersedakah cocok bersama dengan berat timbangan rambut yang dipotong

 

E. Hidangan aqiqah dibagikan kepada kerabat dan tetangga

 

Hewan yang disembelih sementara aqiqah hendaknya diolah atau dimasak terutama dahulu jadi hidangan siap santap. Setelah itu, makanan selanjutnya boleh dibagikan-bagikan kepada orang lain. Yang lebih utama adalah kerabat dan tetangga. (baca makanan halal menurut islam dan makanan haram menurut islam)

 

Hikmah Menjalankan Aqiqah

 

Terdapat beberapa hikmah atau keutamaan berasal dari proses pelaksanaan aqiqah, diantaranya yaitu:

 

Mewujudkan rasa syukur kepada Allah SWT atas karunia lahirnya seorang anak sebagai penerus dalam keluarganya (baca: fungsi ucapan Alhamdulillah)

Meneladani dan ikuti sunnah Rasulullah SAW

Sebagai momen untuk sharing kepada sesama dan mempererat tali persaudaraan

Sebagai wujud rasa gembira dan membagikan kebahagiaan selanjutnya kepada orang lain

 

Demikianlah penjelasan berkenaan syarat kambing untuk aqiqah, penjabaran berkenaan kriteria aqiqah serta hikmah berasal dari aqiqah. Semoga berfungsi dan bisa membantu. Sampai jumpa di artikel berikutnya.